Depok

Kode Pos

Depok

Depok (Sunda) adalah sebuah kota di provinsi Jawa Barat, Indonesia di perbatasan selatan SCR Jakarta di wilayah metropolitan Jabodetabek. The “de” di Jabodetabek mengacu pada Depok, sedangkan kata Depok adalah akronim dari De Eerste Protestant Onderdaan Kerk (Bahasa Indonesia: Organisasi Kristen Protestan Pertama, Bahasa Inggris: Organisasi Kristen Protestan Pertama). Ada juga yang mengatakan bahwa kata “depok” itu sendiri berasal dari bahasa Sunda yang berarti pertapaan atau tempat tinggal seseorang yang hidup dalam pengasingan.

Kawasan ini memiliki luas wilayah 200,29 km2 dan pada Sensus 2014 memiliki populasi 1.869.681 orang, dengan kepadatan 8.746 orang / km2.

Kota ini terbagi menjadi sebelas kabupaten (kecamatan). Tempat duduk kabupaten ini berada di Depok Jaya.
Sejarah
Pada tanggal 18 Mei 1696, mantan perwira VOC Cornelis Chastelein membeli tanah seluas 12.44 km2, 6,2% wilayah Depok hari ini. Selain mengolah area dengan tanaman industri dengan bantuan penduduk setempat, Chastelein aktif sebagai misionaris, memberitakan kekristenan kepada orang asli Indonesia. Untuk tujuan ini, dia mendirikan sebuah kongregasi lokal bernama De Eerste Protestante Organisatie van Christenen (DEPOC). Meski nama orang Sunda Depok, yang berarti pertapaan atau tempat tinggal seseorang yang hidup dalam pengasingan, sudah ada sebelum berdirinya kongregasi, beberapa [siapa?] Bersikeras akronim itu mungkin adalah asal nama kota itu. Saat ini mayoritas penduduk Depok berpegang teguh pada Islam, kecuali mayoritas keluarga asli Depok.

Sebelum kematiannya pada tanggal 28 Juni 1714, Chastelein telah menulis surat wasiat yang membebaskan keluarga budak Depok dan memberi mereka tanah miliknya, mengubah budak menjadi tuan tanah. Pada 1714, 12 keluarga budak menjadi tuan tanah (selamanya diberikan kepada mereka dengan hak kepemilikan pemilik Chastelien dalam surat wasiatnya) dan membebaskan pria, wanita, dan anak-anak. Para budak yang dibebaskan juga disebut sebagai Mardijker – kata Merdeka yang berarti kebebasan dalam Bahasa Indonesia. 28 Juni ditunjuk sebagai Depokse Daag (keluarga Depok) oleh keluarga Depok yang asli, dan pada tanggal 28 Juni 2014, 300 tahun peringatan, mereka secara resmi membuka monumen setinggi 3 meter di atas tanahnya sendiri, namun dilarang oleh Pemerintah karena mengacu pada penjajahan Belanda.
Keluarga budak asli Depok adalah orang Bali, Ambon, Bugis, Sunda dan Portugis Indo, yaitu, Mestizo dan Mardijker. Isakh, Yakub, Jonathans, Joseph, dan Samuel adalah nama keluarga yang dibaptis oleh Chastelein setelah keluarga budak beralih ke agama Kristen Protestan. Keluarga lain mempertahankan nama asli mereka dan mungkin saja (Katolik Roma) Kristen sudah sebelum bergabung dengan gereja Protestan Chastelein. Keturunan keluarga asli Depok kecuali keluarga Sadokh, masih tinggal di Indonesia atau Belanda.

Pada tahun 1871, pemerintah kolonial memberi Depok status khusus yang memungkinkan daerah tersebut membentuk pemerintahan dan presidennya sendiri. Putusan tersebut tidak lagi berdiri setelah tahun 1952, di mana kepresidenan Depok menyerahkan kekuasaannya kepada Depok kepada pemerintah Indonesia kecuali beberapa daerah.

Selama periode Bersiap (1945 perang saudara dan perang kemerdekaan dari Belanda), sebagian besar Depok hancur dan banyak penduduknya terbunuh oleh ‘Pemuda’. Banyak keluarga asli Depok melarikan diri dari kehidupan mereka selama revolusi Indonesia dan sekarang tinggal di Belanda sebagai bagian dari komunitas Indo di sana.

Pada bulan Maret 1982, Depok direklasifikasi sebagai kota administratif di Kabupaten Bogor dan pada tahun 1999, sebagai kota yang dikepalai oleh seorang walikota. Kemudian pada tanggal 20 April 1999, kota Depok disatukan dengan beberapa kabupaten tetangga di Kabupaten Bogor untuk membentuk sebuah kota otonom Depok (independen dari Kabupaten) dengan luas wilayah 200,29 km2.  Tanggal ini diperingati sebagai tanggal berdirinya kota.

Kode Pos Desa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *